Welcome to my Blog...

Terima kasih telah mengunjungi blog ini...
Tuhan memberkati..
Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

Ayah Juga Lupa

Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.
Ada hal-hal yang ayah pikirkan, Nak : Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.
Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikutmu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, “Selamat jalan, ayah!”, dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab : “Tegakkan bahumu!”
Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. “Kaus kaki mahal dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati!”. Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!
Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau mau apa?”, semprot Ayah.
Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.
Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca, ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.
Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!
Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah;  Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual :  Dia cuma seorang anak kecil , anak lelaki kecil!
Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk terbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak. (Source: www.kidung.com)



Jumat, 08 Juli 2011

Kadangkala Hidupmu Menangis


Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab. Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu. Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata perkiraanmu keliru.

Jangan putus asa !! Bangkitlah !!

Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari. demikian juga dirimu. kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu.

AKU sering melihat melihatmu marah ketika kamu melihat orang lain berhasil.
Untuk apa kamu menginginkan keberhasilan orang lain?

Bukankah AKU sudah menyediakan suksesmu sendiri?

Kamu tidak pernah mengejarnya, jadi kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Matamu tidak terfokus kepada rancangan-Ku yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju kepada karya-Ku yang luar biasa atas hidup orang lain.

Jadilah seperti air..Selalu mengalir...melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas.

Anak-Ku,,,jangan mau dikalahkan oleh keadaan,,tetapi kalahkan keadaaan !!

Anak-Ku yang terkasih,,,jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik.

Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman.

Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu !

Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu.

Bukankah untuk itu kau hidup? untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya AKU?

Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU.
Anak-Ku, ingatlah hal ini baik-baik. Aku selalu mebuka tangan-Ku lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya.
AKU senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis.
AKU melakukannya karena AKU sungguh-sungguh peduli padamu !!

Ayah yang selalu mengasihimu,,
YESUS

(Sumber : Elia Groups

Jumat, 29 April 2011

Hubungan dengan Tuhan

     Elly adalah seorang anak perempuan pemalu berusia dua tahun yang sangat berharga. Delsie merawat Elly sementara kedua orangtuanya bekerja jadi saya melihatnya hampir setiap hari, dan untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, dia sangat dingin terhadap saya. Selama ini, tiap kali saya melihat dia, saya akan berkata, "Hai Elly!" Dan dia akan menjawab dengan suara kecilnya yang jahat, "TIDAK!" Saya mencoba dan mencoba untuk memenangkan hatinya, namun tak ada gunanya. Semua yang dia ucapkan adalah, "TIDAK!"

Suatu malam sewaktu keluarga kami berkumpul, Elly menginginkan ibunya untuk membacakan sebuah cerita kepadanya. Tapi ibunya sibuk menyiapkan makan malam jadi saya berkata, "Elly, aku akan membacakan buku itu untukmu." Saya sungguh terkejut karena dia naik ke pangkuan saya dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Kemudian segera setelah saya selesai membacakan buku untuknya, seperti biasa Elly kembali lagi mengatakan, "TIDAK!"


Namun sedikit demi sedikit, selama beberapa bulan lamanya, dia telah menghargai saya dengan sekali-sekali mengucapkan. "Hai" dan bahkan kadang-kadang mengucapkan "Hai, Poppa." Kemarin ketika saya tiba dia rumah anak laki-laki saya, Elly sedang berdiri di jalan masuk untuk mobil di rumahnya. Tanpa ragu-ragu, dia berlari ke arah saya dan melompat ke pelukan saya. Tentu saja saya melimpahi dia dengan pelukan dan ciuman.


Bukankah ini adalah sebuah gambaran tentang hubungan kita dengan Bapa surgawi? Dia merindukan keintiman dengan kita dan menarik kita kepada diri-Nya berualng kali, bahkan ketika kita terus-menerus berkata, "TIDAK!" Kadang-kadang, ketika kita sangat menginginkan sesuatu, kita akan datang kepada Dia, tapi setelah kita mendapatkannya, kita kembali berkata," TIDAK!" Namun Dia tidak menyerah. Allah mengasihi kita, dan karena Dia mengasihi kita, Dia terus-menerus mencoba untuk membangun sebuah hubungan dengan kita.
(Dikutip dari buku "Memiliki Roh yang Intim dengan Tuhan" karangan Alice Smith)

Rabu, 02 Maret 2011

Motivasi Yang Salah

Suatu hari, ada seorang wanita membawa sebuah tas yang berisi uang.
Datanglah perampok dan mendorong wanita itu sampai terjatuh lalu mengambil tas tersebut.
Tiba-tiba, datanglah seorang pria berkendaraan motor datang dan berhenti.
Lalu pria ini menghajar habis-habisan perampok ini.
Wanita yang terjatuh itu berkata "Syukur ada yang datang menolong".
Setelah itu, si pria mengambil tas ini dan.....
Ternyata si pria kembali naik ke motornya dan membawa kabur tas wanita itu.
-end-

*Segala yang kita lakukan, harus berdasarkan pengertian yang benar. =)

Minggu, 20 Februari 2011

Surat menyurat dengan Tuhan


Kepada Yth:
                   Tuhan
                   di Surga

Dengan Hormat,

Tuhan, aku ingin tahu
Mengapa Kau ijinkan hal-hal yang tidak adil terjadi di dunia ini?

Mengapa aku harus memberikan pipi yang kanan jika ditampar pipi yang kiri?

Mengapa aku harus mencintai musuhku?

Mengapa sepertinya aku harus selalu mengalah walau dirugikan?

Mengapa aku harus bersabar atas banyak hal yang tidak menyenangkan?

Tolong Tuhan, jawab aku biar aku mengerti, karena aku merasa sangat lelah menganggung semua ini..
Aku merasa beban hidupku terlalu berat tuk kujalani tuhan..


Reply from Heaven :

AnakKu terkasih,
tidakkah kau sadari bahwa mataKu selalu tertuju padamu?

Aku tahu saat kau diperlakukan tidak adil.
t3r3_87: Aku melihat saat air matamu mengalir menahan perasaan jengkel yang tak terucapkan. Aku bahkan ikut merasakan kepedihan hatimu saat kau dikecewakan.

Tapi tahukah kau bahwa Aku semakin mengasihimu saat Aku melihat kau memaafkan orang lain yang menyakitimu dan bukannya membalas keburukan mereka
t3r3_87: Dan melihatmu bersabar atas sikap jahat yang mereka tujukan padamu membuatKu sangat marah.

Aku ijinkan semua itu terjadi supaya kau terlatih makin hari makin sempurna dan menyerupai Aku.

Tapi, pada saatnya Aku akan menggantikan semuanya dan memberkatimu sesuai kemuliaan dan kekayaanKu.

Aku akan membukakan bagimu pintu-pintu berkat di mana tak ada seorangpun bisa menutupnya. Dan Aku akan memberikan padamu kesempatan-kesempatan emas di mana tak seorangpun bisa mengambilnya.
t3r3_87: Dan Aku telah melihat betapa jahatnya perbuatan mereka dan akan membuat perhitungan dengan mereka yang tak dapat kau bayangkan.

Jadi, anakku janganlah kau berpikir bahwa Aku mengabaikanmu, karena sesungguhnya mataKu ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.


Love,
Tuhan

Kamis, 17 Februari 2011

Kisah Keledai : Jatuh

Ibrani 10:22
"Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni"
Suatu hari keledai milik seorang petani di Vietnam jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup-karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggunya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga" si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri! *Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari "sumur" keterpurukan adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari "sumur" dengan menggunakan hal" tsb sebagai pijakan. Setiap masalah" kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari "sumur" yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah!
(dikutip dari Hikmat + : Bertahan Sampai Akhir)

Berhenti Menjadi Gelas!

Seorang Guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasan hatimu itu"
Si murid pun beranjak pelan tenpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,"kata Sang Guru. "Setelah itu coba kamu minum airnya sedikit."

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.
"Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau."

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang.
Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan Sang Guru, begitu pikirnya. 

Sekarang coba kamu minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. 

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. 
"Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kamu alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau".

"Hidup memang butuh keberanian. Tapi akan lebih butuh ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. 
Hati-hati saat "mencelupkan jari" dalam toples kehidupan. Kalau tidak, "rasa pahit" yang akan kita temukan."

Kamis, 13 Januari 2011

Andalkan Tuhan Dalam Hidupmu

 “ Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu, Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam”
Kita sering sekali membaca ttg Daud melawan Goliath, kita pasti berpikir sangat mustahil bagi seorang yang muda, yang tidak berpengalaman seperti Daud bisa mengalahkan Goliath yang besar dan kuat. Ada beberapa rahasia dari Daud kenapa dia bisa mengalahkan Goliath:

  1. Berani : Daud adalah seorang yang setiap harinya mengembalakan domba, berani maju melawan Goliath yang kuat dan ditakuti semua orang. Didalam kehidupan kita harus berani menghadapi setiap masalah dalam kehidupan, mungkin kelihatannya masalah itu besar dan tidak mungkin bisa kita hadapi. Kita harus lihat betapa besarnya Tuhan kita, bukan melihat besarnya masalah kita. 
  2. Jangan sampai kritikan yang negative membuat engkau mundur: Daud dihina oleh Goliath karena dia masih muda tetapi itu tidak membuat Daud mundur, Dia tetap maju dan dia mengalahkan Goliath. Didalam kehidupan kita, sering perkataan2 orang sekitar kita yang menjatuhkan kita dan membuat kita mundur akhirnya membuat kita kalah dalam melawan setiap masalah kita. Didalam kehidupan kita pasti banyak omongan2 yang berusaha menjatuhkan kita. Tapi kita harus tetap melangkah, jangan mundur. 
  3. Andalkan Tuhan dalam hidupmu : Satu alasan yang membuat Daud berani maju dan tidak mundur ketika dia dihina karena dia mengandalkan Tuhan dalam melawan Goliath. Jika Daud hanya mengandalkan pengalaman dan kekuatan dia untuk melawan Goliath, saya yakin Daud akan kalah total. Tetapi puji Tuhan, mengandalkan Tuhan yang semesta alam. (Ayat 45) maka Tuhan memberikan kemenangan kepada Daud. Kita harus belajar dari Daud yaitu belajar mengandalkan Tuhan dalam segala masalah yang kita hadapi. Walaupun masalah itu sebesar Goliath tapi kita harus berani dan jangan mundur dan takut, sebab kita percaya kita memiliki Tuhan Yesus yang akan memberikan kita kemenangan dalam setiap masalah.

Senin, 27 Desember 2010

Murid Bisa Berbeda, Tapi Guru Hanya Satu

Kamu mungkin bertanya,"Bagaimana aku bisa mengikuti prinsip-prinsip Tuhan sementara situasi yang kuhadapi berbeda dengan situasi orang lain?" Aku akan coba menjawabnya.
Bayangkanlah, kamu seorang murid di kelas melukis. Kamu dan belasan temanmu sedang belajar dari seorang pelukis ternama. Suatu hari Pak Guru memperlihatkan lukisannya - sebuah hasil karya yang sungguh memukau. Ia minta setiap murid menirunya.
Ketika kamu hendak mulai, kamu melihat teman di sebelahmu. Kamu kaget karena kuasnya lebih besar dan kanvasnya lain jenisnya. Kamu melihat ke sekeliling kelas. Beberapa murid memakai cat acrylic, yang lainnya cat air, dan ada juga yang memakai cat minyak. Setiap murid menggunakan warna yang berbeda. Walaupun tugasnya sama, masing-masing mempunyai bahan yang berbeda. Nah, ini membuat kamu tertekan. Beberapa murid mempunyai bahan yang kamu inginkan. Mengapa mereka yang mendapat bahan-bahan itu?
Kamu bukan satu-satunya murid yang menyadari perbedaan ini. Di sebelah kirimu ada yang mengacungkan tangan. Seorang murid perempuan yang perlengkapannya hanya kuas bekas dan tiga nuansa warna biru di wadah catnya terlihat kecewa. "Ini tidak adil," katanya kepada Pak Guru. "Bagaimana saya dapat meniru lukisan Bapak kalau murid-murid lainnya punya banyak pilihan cat!"
Pak Guru Tersenyum. "Jangan hiraukan murid-murid lainnya," katanya. "Bapak sudah dengan cermat memilih kuas dan cat untuk kalian masing-masing. Percayalah, kamu punya apa yang kamu perlukan untuk membuat tugas. Dan ingatlah, tujuan kalian bukan membuat lukisan yang mencerminkan orang yang di sebelahmu. Tujuanmu ialah melakukan yang terbaik untuk meniru lukisanku dengan bahan yang kuberikan kepadamu."
So,, buat kalian semua, Bagaimanapun keadaan kita saat ini, atau kesalahan apapun yang kita perbuat pada masa lampau, Ia telah memberikan segala yang kita perlukan untuk memuliakan Dia saat ini juga.
[dikutip dari buku "Boy Meet Girl"]

Kisah Burung Rajawali dan 7 Prinsip Hidupnya

Burung rajawali adalah burung yang paling panjang usianya. Seekor burung rajawali bisa mencapai umur hingga 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur tersebut adalah pilihan bagi seorang rajawali, apakah dia hidup sampai 70 tahun atau hanya sampai 40 tahun.
Ketika burung rajawali mencapai umur 40 tahun, maka untuk dapat hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau melewati sisa hidup yang tidak menyakitkan namun singkat menuju kematian.
Pada umur 40 tahun paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya sehingga ia akan sulit untuk makan. Cakar-cakarnya pun sudah tidak tajam. Bulu pada sayapnya juga sudah sangat tebal sehingga ia sangat sulit untuk dapat terbang tinggi.
Bila seekor rajawali memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, maka ia harus terbang mencapai pegunungan yang tinggi kemudian membangun sarang di puncak gunung tersebut. Lalu, dia akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya lepas.
Setelah beberapa lama paruh barunya akan muncul. Dengan paruhnya yang baru, ia akan mecabut kukunya satu-persatu dan menunggu hingga kuku-kuku baru yang lebih tajam tumbuh. Ketika kuku-kuku tersebut tumbuh, ia akan mencabut bulu sayapnya sehingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Ketika semua itu telah dilewati, rajawali itu dapat terbang kembali dan menjalani kehidupan normalnya. Begitulah transformasi menyakitkan yang harus dilewati oleh seekor burung rajawali selama kurang lebih setengah tahun.
Seringkali agar kita dapat bertahan, kita harus melewati sebuah perubahan, terkadang kita harus membuang kenangan, kebiasaan dan semua tradisi kerja kita yang lama. Hanya dengan terbebas dari beban masa lalu, kita dapat memulai hidup yang baru.
Perubahan tidak dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan ketidaknyaman, Bahkan sekalipun perubahan itu mengubah dari buruk menjadi lebih buruk.
7 (Tujuh) Prinsip Hidup Rajawali :
1. Rajawali Terbang Bersama Kelompoknya.
2. Rajawali Tetap terfokus kepada visinya dan tidak terpengaruh dengan hambatan apapun.
3. Rajawali Tinggalkan misi lama dan mulai misi baru.
4. Rajawali Menghadapi tantangan untuk mencapai keinginan yang lebih tinggi.
5. Rajawali Berjuang menghadapi ujian/cobaan untuk tetap berkomitmen.
6. Rajawali Memprioritaskan kehidupan keluarga dng komitmen & tanggung jawab kpd keluarga.
7. Rajawali Harus membuang kebiasan dan sikap negatif dan terus membangun karakter.